Nuryanti Noviana's Blog

GAMBARAN KESEHATAN JIWA PADA ANAK USIA SEKOLAH (6-12 TAHUN) DI SEKOLAH DASAR NEGERI SEMERU 7 KOTA BOGOR (BAB II)

Posted on: April 24, 2010


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Kesehatan Jiwa
1. Pengertian
a. Kesehatan
Kesehatan adalah keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi (UU No 23 tahun 1992 tentang kesehatan). Sedangkan Menurut WHO (2005) Kesehatan adalah suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang bebas dari gangguan, seperti penyakit atau perasaan tertekan yang memungkinkan seseorang tersebut untuk hidup produktif dan mengendalikan stress yang terjadi sehari – hari serta berhubungan sosial secara nyaman dan berkualitas. Dari dua definisi di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa untuk di katakan sehat, seorang harus berada pada kondisi fisik, mental dan sosial yang bebas dari gangguan, seperti penyakit atau perasaan tertekan yang memungkinkan seseorang tersebut untuk hidup produktif dan mengendalikan stress yang terjadi sehari – hari serta berhubungan sosial secara nyaman dan berkualitas.
Atas dasar definisi kesehatan tersebut, maka manusia selalu dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh yang terdiri dari unsur fisik (Organobiologik), mental (Psikoedukatif), sosial (Sosiokultural) yang tidak hanya dititik beratkan
pada penyakitnya, tetapi pada kualitas hidup (Quality of life), yang terdiri dari kesejahteraan (Wellbeing), dan produktifitas sosial ekonomi.


b. Kesehatan jiwa
Kesehatan jiwa adalah suatu bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan atau bagian integral dan merupakan unsur utama dalam menunjang terwujudnya kualitas hidup manusia yang utuh. Kesehatan jiwa menurut UU No 23 tahun 1996 tentang kesehatan jiwa di definisikan sebagai suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan secara selaras dengan keadaan orang lain. Senada dengan itu pakar lain mengemukakan bahwa kesehatan jiwa merupakan kondisi mental yang sejahtera (Mentalwellbeing) yang memungkinkan hidup harmonis dan produktif, sebagai bagian yang utuh dan kualitas hidup seseorang dengan memperhatikan semua segi kehidupan manusia.
Dengan kata lain, kesehatan jiwa bukan sekedar terbebas dari gangguan jiwa, tetapi merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh semua orang, mempunyai perasaan sehat dan bahagia serta mampu menghadapi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya dan mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.
1. Proses Terjadinya Gangguan Jiwa
Gejala biasanya mulai timbul pada masa remaja atau dewasa awal sampai dengan umur pertengahan dengan memulai beberapa fase antara lain :

A. Fase Prodomal
a) Berlangsung selama 6 bulan sampai 1 tahun
b) Gangguan dapat berupa self care, gangguan dalam akademik, gangguan pekerjaan, gangguan fungsi sosial, gangguan pikiran dan persepsi.
B. Fase Aktif
a) Berlangsung kurang lebih 1 bulan
b) Gangguan dapat berupa gejala psikotik, halusinasi, delusi, disorganisasi proses berpikir, gangguan bicara, gangguan prilaku, disertai kelainan neurokimiawi.
C. Fase Residual
Klien mengalami minimal 2 gejala; gangguan efek dan gangguan peran, serangan biasanya berulang. ( Iyus Yosep,2007:75)
2. Faktor-faktor predisposisi terjadinya gangguan jiwa pada anak
Adanya gangguan kesehatan jiwa sebenarnya disebabkan oleh banyak hal. Ada tiga golongan penyebab gangguan jiwa, pertama, gangguan fisik, biologis atau organik. Penyebabnya antara lain berasal dari faktor keturunan, kelainan pada otak penyakit infeksi (Tifus, hepatitis, malaria dan lain-lain), kedua, gangguan mental, emosional atau kejiwaan. Penyebabnya, karena salah dalam pola pengasuhan (Pattern of parenting) hubungan yang patologis diantara keluarga disebabkan frustasi, konflik dan tekanan krisis. Ketiga, gangguan sosial dan lingkungan, penyebabnya dapat berupa stressor psikososial, dan perkembangnan diri.(Aris Sudiyanto, 2007 : 30
3. Karakteristik Gangguan Jiwa
Gejalanya adalah Keabnormalan terlihat dalam berbagai macam gejala yang terpenting diantaranya adalah : ketegangan (tension), rasa putus asa dan murung, gelisah, cemas, perbuatan-perbuatan yang terpaksa (convulsive), hysteria, rasa lemah dan tidak mampu mencapai tujuan, takut, pikiran-pikiran buruk dan sebagainya.
Tanda gangguan jiwa

a. Gangguan kognisi
Suatu proses mental yang dengannya seorang individu menyadari dan mempertahankan hubungan dengan lingkungan yang baik, lingkungan yang dalam maupun luarnya (Fungsi mengenal).

b. Gangguan perhatian
Pemusatan dan konsentrasi energ’y menilai dalam suatu proses kognitif yang timbul dari luar akibat dari rangsang.

c. Gangguan ingatan
Kesanggupan untuk mencatat, menyimpan memproduksi isi dan data-data kedsadaran.

d. Gangguan Asosiasi
Proses mental dan dengannya perasaan, kesan atau gambaran ingatan cenderung atau gambaran ingatan respon/konsep lain, yang sebelumnya berkaitan dengannya.
e. Gangguan Pertimbangan
Suatu proses mental untuk mebandingkan/menilai beberapa pilihan dalam suatu kerangka kerja dengan memberikan nilai-nilai untuk memutuskan maksud dan tujuan dari suatu aktivitas.( Zakaria Darajat, 2007)

B. Konsep Anak Usia Sekolah
1.Pengertian
Anak usia sekola adalah sekolah dasar (Disingkat SD) adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia. Sekolah dasar ditempuh dalam waktu 6 tahun, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Saat ini murid kelas 6 diwajibkan mengikuti Ujian Nasional (Dahulu Ebtanas) yang mempengaruhi kelulusan siswa. Lulusan sekolah dasar dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama (Atau sederajat). Pelajar sekolah dasar umumnya berusia 7-12 tahun. Di Indonesia, setiap warga negara berusia 7-15 tahun tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yakni sekolah dasar (atau sederajat) 6 tahun dan sekolah menengah pertama (Atau sederajat) 3 tahun. Sekolah dasar diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Sejak diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2001, pengelolaan sekolah dasar negeri (SDN) di Indonesia yang sebelumnya berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional, kini menjadi tanggung jawab pemerintah daerah kabupaten/kota. Sedangkan Departemen Pendidikan Nasional hanya berperan sebagai regulator dalam bidang standar nasional pendidikan. Secara struktural, sekolah dasar negeri merupakan unit pelaksana teknis Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. (http://www.DEPDIKNAS , 2005)
2. Pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia sekolah
Pertumbuhan dan perkembangan pada masa sekolah akan mengalami proses percepatan pada umur 10-12 tahun, dimana penambahan berat badan 2,5 kg dan ukuran tinggi berat badan sampai 5cm per tahunnya. Pada usia sekolah ini secara umum aktivitas fisik pada anak semakin tinggi dan memperkuat kemampuan motoriknya. Pertumbuhan jaringan limpatik pada usia ini akan semakin besar bahkan melebihi jumlahnya orang dewasa. Kemampuan kemandiriaan anak akan semakin dirasakan dimana lingkungan di luar rumah dalam hal ini adalah sekolah cukup besar, sehingga beberapa masalah sudah mampu diatasi dengan sendirinya dan anak sudah mampu menunjukan penyesuaian diri dengan lingkungan yang ada, rasa tanggung jawab dan percaya diri dalam tugas sudah mulai terwujud sehingga dalam menghadapi kegagalan maka anak sering kali dijumpai reaksi kemarahan atau kegelisahaan, perkembangan kognitif, psikososial, interpersonal, psikoseksual, moral, dan spiritual sudah mulai menunjukan kematangan pada masa ini. Secara khusus perkembangan pada masa ini anak banyak mengembangkan kemampuan interaksi sosial, belajar tentang nilai normal dan budaya dan lingkungan keluarganya dari mulai mencoba mengambil bagian dari kelompok untuk berperan, terjadi perkembangan seacara lebih khusus lagi, terjadi perkembangan konsep diri, keterampilan membaca, menulis serta berhitung, belajar mengahargai di sekolah. (Aziz Alimun, Jakarta : 2001)
3. Masalah kesehatan jiwa pada anak usia sekolah
Masalah yang sering ditemukan pada anak kelompok usia (6-12 tahun) adalah sebagai berikut :
a.Prestasi belajar rendah
Seorang anak akan mengalami prestasi belajar rendah, apabila prestasinya dibawah sebaya karena mengalami kesulitan belajar yang membutuhkan perhatian khusus.
b. Gangguan hiperkinetik
Sekumpulan gejala (sindrom) yang terdiri dari aktivitas fisik yang berlebihan, kurang mampu memusatkan perhatian dan impulsive.
c.Gangguan tingkah laku
Suatu pola tingkah laku anti sosial, agresif atau menentang dan menantang berulang dan menetap dalam bentuk ekstrim.
d. Menolak pergi sekolah/ fobia sekolah
Suatu keadaan dimana anak merasa takut yang tidak masuk akal (irasional) untuk pergi ke sekolah.
e. Gangguan cemas
Gangguan emosional yang paling ditemukan yang bermanifestasi dalam bentuk gejala fisik dan psikologis.
f. Gangguan bicara (gagap)
Bicara tidak lancar, terpatah-patah yang sering terdapat anak dalam keadaan cemas.
g. Gangguan depresaif
Sekumpulan gejala yang menyebabkan penderita tidak mampu menikmati kehidupan sehari-hari.
h. Anak dengan penyakit fisik kronis, keterbatasan fisik atau cacat
Kelumpuhan tungkai/lengan atau serangan asma berulang kali.
i. Epilepsi
Serangan mendadak hilangnya kesadaran yang dapat disertai kejang.
j. Gangguan psikotik
Gangguan jiwa dengan gejala ketidak mampuan menilai realitas yang dapat di liat dari penampilan, perilaku, proses pikir atau perasaan.
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan jiwa pada anak usia sekolah.
a. Pengaruh guru
Perilaku guru menunjukan suatu pengaruh yang besar dan kuat terhadap iklim atau suasana sekolah, baik sosial maupun emosional. Kebersihan guru dalam mengajar dan mendidik, khusunya dalam membantu perkembangan kepribadian anak.
b. Pengaruh teman sebaya
Sehari-hari anak bergaul dengan teman sekolah atau teman di luar sekolah. Orang tua dan guru harus mengetahui kelompok teman bermain anak baik di sekolah maupun diluar sekolah. Di rumah anak berada dalam “dunia dewasa”, yang penuh dengan norma dan nilai yang harus dipatuhi, sedangkan di luar rumah anak dalam “dunia usia sebaya”, yang penuh dengan kebebasan.
c. Pengaruh kondisi fisik sekolah
Anak tidak akan tenang belajar, apabila sekolah terletak di dekat pasar, perkampungan yang padat, dekat pabrik, atau disekitar tempat hiburan. Keadaan semacam ini sangat berpengaruh terhadap perilaku anak.
d. Pengaruh kurikulum
Kurikulum sekolah merupakan pedoman proses pembelajaran yang sangat penting. Undang-undang No. 2 Tahun 1989 dan Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1990 sudah menggariskan jenis dan muatan kurikulum, khususnya kurikulum nasional yang cukup fleksibel menampung keperluan khusus setempat dalam bentuk muatan lokal
e. Pengaruh proses pembelajaran
Suasana sekolah yang menantang dan merangsang belajar, akan menentukan iklim sekolah. Hal ini tergantung pada kemampuan guru mengajar, serta tata tertib yang berlaku disekolah. Sekolah terasa
nyaman dan menarik, sehingga anak senang berada di sekolah dan guru pun bergairah dalam mengajar.
f. Pengaruh keluarga
Keluarga merupakan faktor pembentuk kepribadian anak secara dini yang pertama dan utama. Orang tua yang bersifat otoriter, tidak sabar, mudah marah, selalu mengatakan “tidak”, selalu melarang, sering memukul, akan sangat berpengaruh buruk terhadap perkembangan kepribadian anak. (Depkes RI, Jakarta 2001)

5. Anak sekolah kelas 1
Anak yang berumur (6-7 tahun) yang baru bersekolah di tingkat dasar. Merupakan masa peralihan dari tingkat prasekolah ke usia sekolah, yang butuh adaptasi yang lebih baik lagi.

C. Kerangka Teori

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: