Nuryanti Noviana's Blog

GAMBARAN PENGETAHUAN GURU TENTANG MASALAH KESEHATAN JIWA PADA REMAJA DI SMPN 1 CIAWI TAHUN 2010

Posted on: April 24, 2010


PROPOSAL RISET KEPERAWATAN JIWA

”GAMBARAN PENGETAHUAN GURU TENTANG MASALAH KESEHATAN JIWA

PADA REMAJA DI SMPN 1 CIAWI TAHUN 2010”

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pembangunan nasional pada hakekatnya bertujuan untuk menumbuhkan sikap dan tekad kemandirian manusia dan masyarakat indonesia dalam rangka meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia untuk mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin yang lebih selaras, adil dan merata (GBHN 1998). Untuk mencapai tujuan tersebut, bangsa indonesia telah melakukan berbagai upaya dalam Pembangunan Kesehatan. Upaya dalam pembangunan kesehatan bertujuan agar tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk dan terwujudnya derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Salah satu sasaran pembangunan kesehatan adalah mewujudkan generasi muda yang sehat sebagai sumber daya manusia yang produktif dan mampu berperan serta secara aktif dalam Pembangunan Nasional. Salah satu upaya untuk mewujudkan hal tersebut diatas dengan meningkatkan kualitas non fisik yang meliputi segi intelektual, emosional dan psikososial pada kesehatan remaja (Depkes RI, 2001).

Selama ini upaya masyarakat hanya tertuju pada upaya peningkatan fisik saja dan kurang memperhatikan non fisik, yang juga merupakan faktor penentu dalam keberhasilan seorang remaja di kemudian hari. Faktor mental emosional yang tidak di perhatikan menyebabkan seorang remaja hanya sehat fisiknya, namun secara psikologis rentan terhadap stress/ tekanan hidup. Remaja yang demikian akan mudah mengalami masalah mental, emosional dan perilaku, seperti kesulitan belajar, kecemasan, kenakalan remaja dan ketergantungan NAPZA (Sumiati, 2009).

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak – kanak ke masa dewasa. Oleh karena itu disebut juga sebagai masa panca roba yang penuh gejolak dan keadaan tak menentu (Santrok, 1993). Hal ini terjadi karena di satu pihak, remaja di anggap sudah bukan anak – anak lagi, di lain pihak remaja di anggap belum dewasa, sehingga dapat menyebabkan remaja mengalami krisis identitas. Masa remaja awal merupakan masa transisi, dimana usianya berkisar antara 10 sampai 14 tahun atau yang biasa disebut dengan usia belasan yang tidak menyenangkan, dimana terjadi juga perubahan pada dirinya baik secara fisik, psikis, maupun secara sosial (Hurlock, 1973). Pada masa transisi tersebut kemungkinan dapat menimbulkan masa krisis, yang ditandai dengan kecenderungan munculnya perilaku menyimpang. Pada kondisi tertentu perilaku menyimpang tersebut akan menjadi perilaku yang menganggu (Ekowarni, 1993). Pada masa ini juga kemungkinan dapat di temukan berbagai masalah pada kejiwaan remaja akibat dari tekanan yang mereka dapatkan baik dari diri sendiri maupun dari lingkungannya.

Perkembangan remaja banyak di pengaruhi oleh keluarga dan lingkungan sekolah. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi perkembangan anak, karena peranan ibu dan ayah atau orang tua pengganti (nenek, kakek, dan orang dewasa lainnya) sangat besar untuk proses identifikasi diri dalam lingkup gender. Apabila proses identifikasi ini tidak berjalan dengan lancar, maka dapat timbul proses identifikasi yang salah. (Sumiati, 2009)

Pengaruh lain  yang juga cukup kuat dalam perkembangan remaja adalah lingkungan sekolah. Di sekolah remaja menghadapi beratnya tuntutan guru, orang tua dan saratnya kurikulum sehingga dapat menimbulkan beban mental. Dalam hal ini peran wali kelas dan guru pembimbing sangat berarti apabila guru pembimbing sebagai konselor sekolah tidak berperan, maka siswa tidak memperoleh bimbingan yang sewajarnya. Dalam proses belajar mengajar, guru tidak sekedar mengalihkan ilmu pengetahuan yang terkandung dalam kurikulum tertulis (Written Curriculum), melainkan juga memberikan nilai yang terkandung di dalamnya (Hidden Curriculum), misalnya kerjasama, sikap empati, mau mendengarkan orang lain, menghargai dan sikap lain yang dapat membuahkan kecerdasan emosional. (Sumiati, 2009)

Agar dapat meningkatkan lingkungan yang kondusif untuk perkembangan jiwa remaja, maka orang tua, guru dan masyarakat perlu meningkatkan pengetahuannya tentang masalah kesehatan remaja, sehingga akan tercipta SDM yang tangguh dan berkualitas, sehat fisik, mental serta sosial dan mempunyai kepribadian yang tangguh dan bermoral tinggi (Depkes RI, 2001).

Mengetahui sejauh mana pengetahuan guru terhadap masalah – masalah kesehatan jiwa yang dialami remaja saat ini, Karena hal tersebut dapat dijadikan sebagai tolak ukur bagaimana langkah guru dalam menangani masalah – masalah kesehatan jiwa yang sering dialami oleh remaja. Takaran dalam pengetahuan guru juga dapat dijadikan sebagai langkah awal pemerintah untuk meningkatkan mutu kesehatan jiwa remaja dan menghasilkan kualitas generasi yang lebih baik dalam segi kesehatan jiwa yang sejahtera. (Sumiati, 2009)

SMPN 1 Ciawi merupakan sekolah favorit. Letaknya berada di Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor dan merupakan daerah yang penduduknya terdiri dari masyarakat urban, yang berarti berbagai macam budaya, agama, dan kebiasaan banyak berkembang dan menyatu di tempat tersebut. Pada dasarnya hal ini dapat mempengaruhi bagaimana perkembangan kesehatan jiwa remaja, kemungkinan untuk timbulnya masalah dalam kesehatan jiwa remaja akan sangat tinggi. Untuk itu peneliti tertarik untuk mengetahui sejauh mana guru memahami masalah kesehatan jiwa yang timbul pada masa remaja awal pada kondisi daerah seperti itu, sehingga guru bisa mengerti bagaimana cara menanganinya dengan baik.

Dari masalah diatas peneliti menyusun riset yang berjudul “ Gambaran Pengetahuan Guru Tentang Masalah Kesehatan jiwa Remaja di SMPN 1 Ciawi Tahun 2010 ”.

B. RUMUSAN MASALAH

Bagaimana gambaran pengetahuan guru tentang masalah kesehatan jiwa pada remaja di SMP.

C. TUJUAN PENELITIAN

1. Tujuan umum

Untuk menggambarkani pengetahuan guru tentang masalah kesehatan jiwa pada remaja SMP.

2. Tujuan khusus

  1. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan guru tentang bingung peran.
  2. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan guru tentang kesulitan belajar.
  3. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan guru tentang kenakalan remaja.
  4. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan guru tentang perilaku seksual yang menyimpang.

D. MANFAAT PENELITIAN

1. Bagi sekolah

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan penyusunan, perencanaan, kegiatan bimbingan konseling di sekolah.

2. Bagi instansi kesehatan/ pemerintah terkait

Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai bahan penyusunan, perencanaan program upaya penanganan kesehatan jiwa remaja.

3. Bagi instansi pendidikan

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu refrensi yang mendukung pelaksanaan PBM khususnya bidang ilmu kesehatan jiwa dan jiwa masyarakat.

4. Bagi peneliti

Hasil penelitian dapat dijadikan alat untuk memperoleh pengalaman melakukan penelitian.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN

Pengetahuan

1.  Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan ini terjadi melalui panca indera manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang ( Notoatmodjo, 2003).

2.  Tingkat Pengetahuan

Ada 6 tingkatan pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif, yakni :

a. Tahu (know)

Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah di pelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari keseluruhan bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasi, menyatakan, dsb.

b. Memahami (comprehension)

Diartikan sebagai suatu kemempuan untuk menjelaskan secara benar  tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap obyek atau materi harus dapat menjelaskan, menybutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya.

c.   Menerapkan (application)

Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah di pelajari pada kondisi yang sebenarnya. Aplikasi disini dapat sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang nyata.

d.   Analysis (analisa)

Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau obyek ke dalam komponen – komponen tetapi masih di dalam satu struktur organisasi dan  ada kaitannya satu sama lainnya. Kemampuan analisis ini dapat dari penggunaan kata kerja seperti dapatmenggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.

e.   Sintesa (Synthesis)

Menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian – bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis adalah kemampuan untuk menyusun formulasi – formulasi yang ada.

f.    Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemempuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu obyek atau materi. Penilaian – penilaian ini didasarkan pada suatu criteria yangditentukan sendiri atau menggunakan kriteria – kriteria yang telah ada.

3.  Faktor – factor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu :

1. Pengalaman

Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun orang lain. Pengalaman yang sudah diperoleh dapat memperluas pengetahuan  seseorang.

2. Tingkat Pendidikan

Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan seseorang. Secara umum, seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah.

3. Keyakinan

Biasanya keyakinan diperoleh secara turun temurun dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu. Keyakinan ini bisa mempengaruhi  pengetahuan seseorang, baik keyakinan itu sifatnya positif maupun negatif.

4. Fasilitas

Fasilitas – fasilitas sebagai sumber informasi yang dapat mempengaruhi pengetahuann seseorang, misalnya radio, televise, majalah, Koran, dan  buku

5. Penghasilan

Penghasilan tidak berpengaruh langsung terhadap pengetahuan seseorang. Namun bila seseorang berpenghasilan cukup besar maka dia akan mampu untuk menyediakan atau membeli fasilitas – fasilitas sumber informasi.

6. Sosial Budaya

Kebudayaan setempat dan kebiasaan dalam keluarga dapat mempengaruhi pengetahuan, persepsi, dan sikap seseorang terhadap sesuatu.

4.  Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menyatakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat disesuaikan dengan tingkatan domain diatas (Notoatmodjo, 2003).

Beberapa teori lain yang telah dicoba untuk mengungkapkan determinan perilaku dari analisis factor – fator yang mempengaruhi perilaku, khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, antara lain teori Lawrence  green. (Green, dalam Notoatmodjo,2003) mencoba menganalisa perilaku manusia dari tingkat kesehatan. Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi perilaku (non behaviour causes). Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau dibentuk dari 3 faktor, yaitu :

  1. faktor – factor pengaruh (predisposing factor) yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, dan nilai – nilai.
  2. faktor – factor pendukung (enabling factor) yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas – fasilitas atau sarana – sarana kesehatan.
  3. faktor – factor penguat ( reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan.

Kesehatan

1. Definisi Kesehatan

Kesehatan adalah keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi (UU No 23 tahun 1992 tentang kesehatan). Sedangkan menurut Menurut WHO (2005) Kesehatan adalah suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang bebas dari gangguan, seperti penyakit atau perasaan tertekan yang memungkinkan seseorang tersebut untuk hidup produktif dan mengendalikan stress yang terjadi sehari – hari serta berhubungan sosial secara nyaman dan berkualitas. Dari dua definisi di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa untuk di katakan sehat, seseoramg harus berada pada kondisi fisik, mental dan sosial yang bebas dari gangguan, seperti penyakit atau perasaan tertekan yang memungkinkan seseorang tersebut untuk hidup produktif dan mengendalikan stress yang terjadi sehari – hari serta berhubungan sosial secara nyaman dan berkualitas.

Atas dasar definisi kesehatan tersebut, maka manusia selalu dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh yang terdiri dari unsur fisik (organobiologik), mental (psikoedukatif), sosial (sosiokultural) yang tidak hanya dititik beratkan pada penyakitnya, tetapi pada kulaitas hidup (quality of life), yang terdiri dari kesejahteraan (wellbeing), dan produktifitas sosial ekonomi.

2. Definisi Kesehatan Jiwa

Kesehatan jiwa adalah suatu bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan atau bagian integral dan merupakan unsur utama dalam menunjang terwujudnya kualitas hidup manusia yang utuh. Kesehatan jiwa menurut UU No 23 tahun 1996 tentang kesehatan jiwa di definisikan sebagai suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan secara selaras dengan keadaan orang lain. Senada dengan itu pakar lain mengemukakan bahwa kesehatan jiwa merupakan kondisi mental yang sejahtera (mental wellbeing) yang memungkinkan hidup harmonis dan produktif, sebagai bagian yang utuh dan kualitas hidup seseorang dengan memperhatikan semua segi kehidupan manusia.

Dengan kata lain, kesehatan jiwa bukan sekedar terbebas dari gangguan jiwa, tetapi merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh semua orang, mempunyai perasaan sehat dan bahagia serta mampu menghadapi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya dan mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.

3. Definisi Remaja

WHO (dalam Sarwono, 2002) mendefinisikan remaja lebih bersifat konseptual, ada tiga kriteria yaitu biologis, psikologik dan sosial ekonomi, dengan batasan usia antara 10–20 tahun, yang secara lengkap definisi tersebut berbunyi sebagai berikut:

  1. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda – tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
  2. Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak – kanak menjadi dewasa.
  3. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.

Monks (1999) sendiri memberikan batasan usia masa remaja adalah masa diantara 12–21 tahun dengan perincian 12– 5 tahun masa remaja awal, 15–18 tahun masa remaja pertengahan, dan 18–21 tahun masa remaja akhir. Senada dengan pendapat suryabrata (1981) membagi masa remaja menjadi tiga, masa remaja awal 12–15 tahun, masa remaja pertengahan 15–18 tahun dan masa remaja akhir 18–21 tahun. Berbeda dengan pendapat Hurlock (1999) yang membagi masa remaja menjadi dua bagian, yaitu masa remaja awal 13–16 tahun, sedangkan masa remaja akhir 17-18 tahun. Remaja didefinisikan sebagai periode transisiperkembangan dari masa kanak – kanak ke masa dewasa yang mencakup aspek biologik, kongnitif dan perubahan sosial yang berlangsung antara 10-19 tahun (santrock, 1993). Masa remaja terdiri dari masa remaja awal (10-14 tahun), masa remaja pertengahan (15-16 tahun) dan masa remaja akhir (17-19 tahun). Penulis menetapkan pendapat santrock yang akan dibahas di proposal ini.

Yang dimaksud dengan remaja awal (Early Adolescense) adalah masa yang ditandai dengan berbagai perubahan tubuh yang cepat dan sering mengakibatkan kesulitan dalam menyesuaikan diri, pada saat ini remaja mulai mencari identitas diri. Remaja pertengahan (Middle Adolescense) ditandai dengan bentuk tubuh yang sudah menyerupai orang dewasa, meskipun belum siap secara psikis. Pada masa ini sering terjadi konflik, karena remaja sudah mulai ingin bebas mengikuti teman sebaya. Yang erat kaitannya dengan pencarian identitas, di lain oihak mereka masih tergantung dengan orang tua. Remaja akhir (Late Adolescense) di tandai dengan pertumbuhan biologis sudah melambat, tetapi masih berlangsung di tempat – tempat lain. Emosi, minat, konsentrasi dan cara berfikir mulai stabil serta kemampuan untuk menyelesaikan masalah sudah meningkat.

4. Karakteristik Remaja

Karakteristik perkembangan normal yang terjadi pada remaja dalam menjalankan tugas perkembangannya dalam mencapai identitas diri antara lain menilai diri secara objektif dan merencanakan untuk mengaktualisasi kemampuannya. Dengan demikian pada fase ini, seorang remaja akan :

  1. Menilai rasa identitas pribadi
  2. Meningkatkan minat pada lawan jenis
  3. Menggabungkan perubahan seks sekunder kedalam citra tubuh
  4. Memulai perumusan tujuan okupasional
  5. Memulai pemisahan diri dari otoritas keluarga.

Hurlock mengemukakan berbagai ciri dari remaja diantaranya adalah :

1. Masa remaja adalah masa peralihan

Yaitu peralihan dari satu tahap perkembangan ke perkembangan berikutnya secara berkesinambungan.

2. Masa remaja adalah masa terjadi peralihan

Sejak  awal remaja, perubahan fisik terjadi denganpesat, perubahan perilaku dan sikap juga berkembang. Ada empat perubahan besar yang terjadi pada remaja, yaitu perubahan emosi, perubahan peran dan minat, perubahan pola perilaku dan perubahan sikap dan ambivalen.

3. Masa remaja adalah masa yang banyak masalah

Masalah remaja sering menjadi masalah yang sulit untuk diatasi. Hal ini terjadi karena tidak terbiasanya remaja menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa meminta bantuan orang lain sehingga kadang – kadang terjadi penyelesaian yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.

4. Masa remaja adalah masa mencari identitas

Identitasdiri yang dicari remaja adalah berupa kejelasan siapa dirinya dan apa peran dirinya di masyarakat.

5. Masa remaja sebagai masa yang menimbulkan kekuatan

Ada stigma dari masyarakat bahwa remaja adalah anak yang tidak rapi, tidak dapat di percaya, cenderung berprilaku merusak, sehingga menyebabkan orang dewasa harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja. Dengan adanya stigma ini akan membuat masa peralihan remaja ke dewasa menjadi sulit, karena peran orang tua yang memiliki pandangan seperti ini akan mencurigai dan menimbulkan pertentangan antara orang tua dengan remaja serta membuat jarak diantara keluarga.

6. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik

Remaja cenderung memandang kehidupan melalui kacamatanya sendiri, baik dlm melihat dirinya maupun melihat orang lain, mereka belum melihat apa adanya, tetapi menginginkan sebagai mana yang ia harapkan.

7. Masa remaja adalah ambang masa dewasa

Dengan berlalunya usia belasan, remaja yang semakin matang berkembang dan berusahamemberi kesan seseorang yang hampir dewasa. Ia akan memusatkan dirinya pada perilaku yang di hubungkan dengan status orang dewasa, misalnya dalam berpakaian dan bertindak.

Hurlock (1999) pada masa remaja ini ada beberapa yang bersifat universal, yaitu meningkatkan emosi, perubahan fisik, perubahan terhadap minat dan peran, perubahan pola perilaku, nilai – nilai dan sikap ambivalen terhadap setiap perubahan. Berikut ini dijelaskan satu persatu dari ciri – ciri perubahan yang terjadi pada masa remaja.

5. Perubahan masa remaja

  1. Perubahan fisik

Perubahan fisik berhubungan dengan aspek anatomi dan aspek fisiologis, di masa remaja kelenjar hipofise menjadi masak dan mengeluarkan beberapa hormon, seperti hormon gonotrop yang berfungsi untuk mempercepat pematangan sel telur dan sperma, serta mempengaruhi produksi hormon kortikortop berfungsi mempengaruhi kelenjar suprenalis, testosterone, estrogen, dan suprenalis yang mempengaruhi pertumbuhan anak sehingga terjadi percepatan pertumbuhan (Monks dkk, 1999). Dampak dari produksi hormon tersebut menurut Atwater (1992) adalah: (1) ukuran otot bertambah dan semakin kuat. (2) Testosteron menghasilkan sperma dan estrogen memproduksi sel telur sebagai tanda kemasakan. (3) Munculnya tanda – tanda kelamin sekunder seperti membesarnya payudara, berubahnya suara, ejakulasi pertama, tumbuhnya rambut – rambut halus disekitar kemaluan, ketiak dan muka.

2. Perubahan Emosional

Pola emosi pada masa remaja sama dengan pola emosi pada masa kanak – kanak. Pola – pola emosi itu berupa marah, takut, cemburu, ingin tahu, iri hati, gembira, sedih dan kasih sayang. Perbedaan terletak pada rangsangan yang membangkitkan emosi dan pengendalian dalam mengekaspresikan emosi. Remaja umumnya memilikikondisi emosi yang labil pengalaman emosi yang ekstrem dan mampu mengekspresikan emosi secara tepat sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan dan dengan cara yang dapat diterima masyarakat, dengan kata lain remaja yang mencapai kematangan emosi akan memberikan reaksi emosi yang stabil (Hurlock, 1999)

Nuryoto (1992) menyebutkan ciri – ciri kematangan emosi pada masa remaja yang ditandai dengan sikap sebagai berikut: (1) Tidak bersikap kekanak – kanakan. (2) Bersikap rasional. (3) Bersikap objektif (4) Dapat menerima kritikan orang lain sebagai pedoman untuk bertindak lebih lanjut. (5) Bertanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukan. (6) Mampu menghadapi masalah yang dihadapi.

3. Perubahan sosial

Perubahan fisik dan emosi pada masa remaja juga mengakibatkan perubahan dan perkembangan remaja, monks, dkk (1999) menyebutkan dua bentuk perkembangan remaja yaitu, memisahkan diri dari orangtua dan menuju ke arah teman sebaya. Remaja berusaha melepaskan diri dari orangtua dengan maksud menemukan jati diri. Remaja lebih banyak berada di;uar rumah dan berkumpul bersama teman – teman sebayanya dengan membentuk suatu kelompok dan mengekspresikan segala potensi yang dimiliki. Kondisi ini membuat remaja sangat rentan terhadap pengaruh teman dalam hal minat, sikap penampilan dan perilaku. Perubahan yang paling menonjol adalah hubungan heteroseksual. Remaja akan memperlihatkan perubahan radikal dari tidak menyukai lawan jenis menjadi lebih menyukai. Remaja ingin diterima, diperhatikan dan dicintai oleh lawan jenis dan kelompoknya.

6. Tugas Perkembangan Masa Remaja

Semua tugas – tugas perkembangan remaja terfokus bagaimana nelalui sikap dan pola perilaku kanak – kanak dan mempersiapkan sikap dan perilaku orang dewasa. Rincian tugas – tugas pada masa remaja ini adalah sebagai berikut:

  1. Mencapai relasi yang lebih matang dengan teman seusia dari kedua jenis kelamin.
  2. Mencapai peran sosial feminin atau maskulin.
  3. Menerima fisik dan menggunakan tubuhnya secara efektif.
  4. Meminta, menerima dan mencapai perilaku bertanggung jawab secara sosial.
  5. Mencapai kemandirian secara emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya.
  6. Mempersiapkan untuk karir ekonomi.
  7. Mempersiapkan untuk menikah dan berkeluarga.
  8. Memperoleh suatu set nilai dan sistem etis untuk mengarahkan perilaku.

Masalah – Masalah Kesehatan Jiwa Remaja

Adanya penyimpangan/ Deviasi tugas perkembangan remaja terjadi jika seorang mengalami konflik pada masa perkembangannya, sehingga menunjukkan perilaku yang tidak sesuaidengan tahap usianya (Resolusi Negatif) atau mengalami hambatan dalam mencapai tugas perkembangan remaja, jika tidak terselesaikan dengan baik dapat menimbulkan masalah kesehatan jiwa. Masalah tersebut dapat berasal dari diri remaja itu sendiri, hubungan dengan orangtua dengan remaja atau akibat interaksi sosial di luar lingkungan keluarga, sehingga akibat lanjutnya terjadi masalah kesehatan jiwa dengan manifestasi yang bermacam – macam, seperti kesulitan belajar, bingung peran, kenakalan remaja, dan perilaku seksual yang menyimpang.

Pada masa transisi ini, kemungkinan dapat menimbulkan masa krisis, yang ditandai dengan kecenderungan munculnya perilaku menyimpang. Pada kondisi tertentu perilaku tersebut akan menjadi perilaku yang mengganggu (Ekowarni, 1993). Melihat kondisi tersebut apabila di dukung oleh lingkungan yang kondusif dan sifat kepribadian yang kurang baik akan menjadi pemicu timbulnya berbagai penyimpangan perilaku dan perbuatan – perbuatan negatif yang emlanggar aturan dan norma yang ada di masyarakat.

Masalah kesehatan jiwa remaja yang akan di bahas adalah :

  1. Bingung peran
  2. Kesulitan belajar
  3. Kenakalan remaja
  4. Perilaku seksual yang menyimpang.
  1. Bingung Peran

a. Pengertian

Karakteristik penyimpangan perilaku yang emnunjukan terjadinya resolusi negatif pada seorang remaja ketika mengalami bingung peran, yaitu saat ia bingung, ragu – ragu, dan perilaku anti sosial.

b. Penyebab

Penyebab terjadinya penyimpangan perkembangan psikososial/ bingung peran adalah:

  1. Tidak menemukan ciri khas (kekuatan dan kelemahan) dirinya
  2. Tidak di terima lingkungan pada setiap tahapan usia.

c. Masalah – masalah yang sering di hadapi remaja, diantaranya adalah:

  1. Keliru dengan peran tanggung jawab dirinya sendiri
  2. Sering merasa dirinya disalahkan
  3. Merasa dirinya di layani secara tidak adil
  4. Tidak di pedulikan
  5. Sukar memahami emosinya sendiri
  6. Susah membuat keputusan

2. Kesulitan Belajar

a. Pengertian

Kesulitan belajar adalah suatu keadaaan (kondisi)dimana remaja tidak menunjukkan prestasi sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Kesulitan belajar atau “Learning Dissabilities (LD)” adalah hambatan/ gangguan belajar pada anak dan remaja yang ditandai oleh adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf intelegensi dan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai. Hal ini disebabkan oleh gangguan di dalam sistem saraf pusat otak (gangguan neurobiologis) yang dapat menimbulkan gangguan perkembangan bicara, membaca, menulis, pemahaman, dan berhitung. Bila tidak ditangani dengan baik dan benar akan menimbulkan berbagai bentuk gangguan emosional (psikiatrik) yang akan berdampak buruk bagi perkembangan kualitas hidupnya di ekmudian hari.

b. Faktor penyebab terjadinya kesulitan belajar

1. Faktor internal siswa, yakni hal – hal atau keadaan yang muncul dari dalam diri siswa sendiri, yang meliputi gangguan atau kekurang mampuan psiko-fisik siswa yang terdiri dari:

a)      Bersifat kongnitif (Ranah cipta) seperti rendahnya kapasitas intelektual/ intelegensi siswa.

b)      Bersifat afektif (ranah rasa) antara lain: labilnya emosi dan sikap

c)      Bersifat psikomotor (ranah karsa) antara lain terganggunya alat – alat indra penglihatan dan pendengaran (mata dan telinga)

2. Faktor eksternal siswa, yakni hal – hal atau keadaan yang datang dari luar diri siswa, yaitu kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktifitas belajar siswa, yang terdiri dari:

a)      Lingkungan keluarga, contohnya: ketidak harmonisan hubngan antara ayah dan ibu, rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.

b)      Lingkungan masyarakat, contohnya wilayah perkampungan kumuh dan teman sepermainanan yang nakal.

c)      Lingkungan sekolah, contohnya: kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru serta alat – alat belajar yang kurang berkualitas.

c. Deteksi Dini Kesulitan Belajar

Tanda – tanda kesulitan belajar sangat bervariasi diantaranya:

  1. Daya ingatnya (relatif) kurang baik
  2. Sering melakukan kesalahan yang konsisten dalam mengeja dan membaca. Misalnya huruf d dibaca b, huruf w dibaca m. (buku di baca duku)
  3. Lambat untuk mempelajari hubungan antara huruf dengan bunyi pengucapannya.
  4. Bingung dengan operasionalisasi tanda – tanda dalam pelajaran matematika, misalnya tidak dapat membedakan antara – (minus) dengan + (plus), tanda + (plus) dengan x (kali), dan lain – lain.
  5. Sulit dalam mempelajari keterampilan baru, terutama yang membutuhkan kemampuan daya ingat.
  6. Sangat aktif dan tidak mampu menyelesaikan satu tugas atau kegiatan tertentu dengan tuntas.
  7. Impulsif (bertindak sebelum berfikir)
  8. Sulit konsentrasi atau perhatiannya mudah teralih.
  9. Sering melakukan pelanggaran baik di sekolah atau di rumah.
  10. Tidak bertanggung jawab terhadap kewajibannya.
  11. Tidak mampu merencanakan kegiatan sehari – hari.
  12. Problem emosional seperti mengasingkan diri, pemurung, mudah tersinggung atau acuh terhadap lingkungannya.
  13. Menolak bersekolah
  14. Mengalami kesulitan dalam mengikuti petunjuk atau rutinitas tertentu.
  15. Ketidakstabilan dalam memegang pensil/ pena.
  16. Kesulitan dalam mempelajari pengertian tentang hari dan waktu Pada Usia Remaja dan Dewasa.
  17. Membuat kesalahan dalam mengeja berlanjut hingga dewasa.
  18. Sering menghindar dari tugas membaca dan menulis.
  19. Kesulitan dalam menyimpulkan suatu bacaan.
  20. Kesulitan menjawab suatu pertanyaan yang membutuhkan penjelasan lisan dan/ atau tulisan.
  21. Kemampuan daya ingat lemah.
  22. Kesulitan dalam menyerap konsep yang abstrak.
  23. Bekerja lamban.
  24. Bisa kurang perhatian dalam hal – hal rinci atau bisa juga terlalu fokus pada hal-hal yang rinci.
  25. Bisa salah dalam membaca informasi.

d. Individu yang mengalami Kesulitan Belajar atau Learning Disabilities (LD) membutuhkan:

  1. Identifikasi sedini mungkin.
  2. Tes dan observasi untuk memperoleh gambaran apa yang menjadi kekuatan dan kelemahannya.
  3. Rencana Pembelajaran Individual (Individual Educational Program/IEP)
  4. Dukungan dari orangtua dan guru (pendidik) yang memahami kesulitan belajar.
  5. Koonseling dan profesional terkait
  6. Pengembangan keterampilan dan kemampuan untuk bisa mandiri.
  7. Pendidikan kejuruan dan pelatihan kerja.
  8. Memiliki atasan yang dapat memahami keadaannya.

3. Kenakalan Remaja

a. Pengertian

Kenakalan remaja adalah tingkah laku yang melampaui batas toleransi orang lain dan lingkungannya. Tindakan ini dapat merupakan perbuatan yang melanggar hak azasi manusia sampai melanggar hukum. Kenakalan remaja adalah perilaku jahat atau kenakalan anak – anak muda, merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. Istilah kenakalan remaja mengacu pada suatu rentang yang luas, dari tingkah laku yang tidak dapat diterima sosial sampai pelanggaran status hingga tidak kriminal. (kartono, 2003)

b. Karakteristik Kenakalan Remaja

Conger (dalam Monks dkk, 1982) menyatakan bahwa remaja nakal biasanya mempunyai sifat memberontak, ambivalen terhadap otoritas, mendendam, curiga,impulsif dan menunjukan kontrol batin yang kurang. Sifat-sifat tersebut mendukung perkembangan konsep diri yang negatif. Rais (dalam Gunarsa, 1983) mengatakan bahwa remaja yang didefinisikan sebagai anak nakal biasanya memiliki konsep diri yang lebih negatif dibandingkan dengan anak yang tidak bermasalah. Dengan demikian remaja yang dibesarkan dalam keluarga yang kurang harmonis dan memiliki konsep diri negatif kemungkinan memiliki kecenderungan yang lebih besar menjadi remaja nakal dibandingkan remaja yang dibesarkan dalam keluarga harmonis dan memiliki konsep diri positif.

Menurut Kartono (2003), remaja nakal itu mempunyai karakteristik umum yang sangat berbeda dengan remaja tidak nakal. Perbedaan itu mencakup :

1. Perbedaan struktur intelektual

Pada umumnya intelegensi mereka tidak berbeda dengan intelegensi remaja yang normal, namun jelas terdapat fungsi-fungsi kongnitif khusus yang berbeda biasanya remaja nakal ini mendapatkan nilai lebih tinggiuntuk tugas-tugas prestasi daripada nilai untuk keterampilan verbal (tes Wechsler). Mereka kurang toleran terhadap hal-hal yang ambisius biasanya mereka kurang mampu memperhitungkan tingkah laku orang lain bahkan tidak menghargai pribadi lain dan menganggap orang lain sebagai cerminan diri sendiri.

2. Perbedaan fisik dan psikis

Remaja yang nakal ini lebih “idiot secara moral” dan memiliki perbedaan ciri karakteristik yang jasmaniah sejak lahir jika dibandingkan dengan remaja normal. Bentuk tubuh mereka lebih kekar, berotot, kuat, dan pada umunya bersifat lebih agresif. Hasil penelitian juga menunjukkan ditemukannya fungsi fisiologis dan neurologis yang khas pada remaja nakal ini, yaitu: mereka kurang bereaksi terhadap stimulus kesakitan dan menunjukan ketidakmatangan jasmaniah atau anomali perkembangan tertentu.

3. Ciri Karakteristik individual

Remaja yang nakal ini mempunyai sifat kepribadian khusus yang menyimpang, seperti:

a)      Rata-rata remaja yang nakal ini hanya berorientasi pada masa sekarang, bersenang-senag dan puas pada hari ini tanpa memikirkan masa depan.

b)      Kebanyakan dari mereka terganggu secara emosional.

c)      Mereka kurang bersosialisasi dengan masyarakat normal, sehingga tidak mengenal norma-norma kesusilaan, dan tidak bertanggung jawab secara sosial.

d)      Mereka senang menceburkan diri dalam kegiatan tanpa berpikir yang merangsang kejantanan, walaupun mereka menyadari besarnya resiko dan bahay yang terkandung didalamnya.

e)      Pada umumnya mereka sangat impulsif dan suka tantangan dan bahaya.

f)      Hati nurani tidak atau kurang lancar fungsinya.

g)      Kurang memiliki disiplin diri dan kontrol diri sehingga mereka menjadi liar dan jahat.

4. Bentuk dan aspek-aspek kenakalan remaja

  1. Kenakalan terisolir (Delikuensi terisolir)

Kelompok ini merupakan jumlah terbesar dari remaja nakal. Pada umumnya mereka tidak menderita kerusakan psikologisnya.

1. Kenakalan Neurotik (Delikuensi neurotik)

Pada umumnya, remaja nakal tipe ini menderita gangguan jiwa yang cukup serius, antara lain berupa kecemasan, merasa selalu tidak aman,merasa berdosa dan bersalah,dll.

2. Kenakalan psikotik (Delikuensi psikopatik)

Delikuensi psikopatik ini sedikit jumlahnya, akan tetapi dilihat dari kepentingan umum dan segi keamanan, mereka merupakan oknum kriminal yang paling berbahaya.

3. Kenakalan defek moral (Delikuensi defek moral)

Defek (defect, defectusi) artinya rusak, tidak lengkap, salah, cedera, cacat, kurang.

5. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan kenakalan remaja

  1. identitas
  2. Kontrol diri
  3. Usia
  4. Jenis kelamin
  5. Harapan terhadap pendidikan dan nilai-nilai di sekolah.
  6. Proses keluarga
  7. Pengaruh teman sebaya
  8. Kelas sosial ekonomi
  9. Kualitas lingkungan disekitar tempat tinggal.

4. Perilaku Seksual Menyimpang

a. Pengertian

Pengertian seksual secara umum adalah sesuatu yang berkaitan dengan alat kelamin atau hal-hal yang berhubungan denganperkara hubungan intim antara laki-laki dan perempuan. Karakteristik seksual masing-masing kelamin memiliki spesifikasi berbeda.

b. Perilaku Seksual Remaja

Perilaku seksual adalah, segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkahlaku ini dapat beranekaragam, mulai dari perasaan tertarik hingga tingkahlaku berkencan, bercumbu dan bersenggama. Objek seksual dapat berupa orang,baik sejenis maupun lawan jenis, orang dalam khayalan atau diri sendiri, sebagian tingkh laku ini memang tidak memiliki dampak, terutama bila tidak menimbulkan dampak fisik bagi orang yang bersangkutan atau lingkungan sosial. Tetapi sebagian perilaku seksual (yang dilakukan sebelum waktunya) justru dapat memiliki dampak psikologis yang sangat seriuas, seperti rasa bersalah, depresi, marah dan agresi.

c. Perilaku Seksual Yang Menyimpang

Perilaku seksual pada remaja yang belum saatnya untuk melakukan hubungan seksual secara wajar antara lain:

  1. Masturbasi atau onani yaitu suatu kebiasaan buruk berupa manipulasi terhadap alat genital dalam rangka menyalurkan hasrat seksual untuk pemenuhan kenikmatan yang seringkali menimbulkan goncangan pribadi dan emosi. Anggapan bahwa masturbasi dapat melemahkan syahwat atau mempengaruhi kemampuan untuk mendapatkan keturunan dapat emnimbulkan perasaan takut atau perasaan berbeda.
  2. Berpacaran dengan berbagai perilaku seksual yang ringan, seperti sentuhan, pegangan tangan sampai pada ciuman dan sentuhan-sentuhan seks yang pada dasarnya adalah keinginan umtuk menikmati dan memuaskan dorongan seksual.

Berbagai kegiatan yang mengarah pada pemuasan dorongan seksual yang pada dasarnya menunjukkan tidak berhasilnya seseorang dalam mengendalikannya atau kegagalan untuk mengalihkan dorongan tersebut ke kegiatan lain yang sebenarnya masih bisa dikerjakan. (Sumiati,Skp. Msi, 2009)

B. KERANGKA TEORI

BAB III

KERANGKA PEMIKIRAN

  1. A. KERANGKA KONSEP
Gambaran Pengetahuan Guru Tentang Kesehatan jiwa Siswa SMP

Masalah kesehatan jiwa pada remaja banyak di pengaruhi oleh berbagai faktor di lingkungannya. Terkadang banyak sekali hal yang terlewatkan karena minimnya pengetahuan guru mengenai masalah kesehatan jiwa pada remaja. Kebanyakan penanganan lebih menitikberatkan hanya pada masalah yang muncul saja,tanpa di ketahui apa pemicu sebenarnya. Untuk itu perlu diketahui sejauh mana pengetahuan guru tentang masalah kesehatan jiwa pada remaja, apakah sudah banyak guru yang bisa mengetahui ciri-ciri penyimpangan yang terjadi pada kesehatan jiwa remaja.

B. VARIABEL

Gambaran pengetahuan guru

C. DEFINISI OPERASIONAL

Variabel DO cara Alat ukur hasil skala
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan ini terjadi melalui panca indera manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba Pengetahuan mengenai kejiwaan remaja sangat di perlukan agar guru mampu mengatasi setiap permasalahan yang di alami siswa.

Tingkat pengetahuan guru tentang masalah kejiwaan perlu diketahui (rendah, sedang, tinggi)

wawancara kuisioner Rendah/

Sedang/

Tinggi

ordinal

BAB IV

METODELOGI

A.  Jenis Penelitian

Metoda penelitian deskriptif adalah suatu metoda penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara obyektif. Metoda penelitian deskriptif digunakan untuk memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. Penelitian ini dilakukan dengan menempuh langkah-langkah: pengumpulan data, klasifikasi, pengolahan/analisis datadan membuat kesimpulan dan laporan. (Metode riset keperawatan, 135)

B.  Waktu dan Tempat

Waktu       : Juni 2010

Tempat      : SMPN 1 Ciawi

C.  Populasi dan Sampel

1.   Populasi :

a.   Populasi Target

Guru SMP

b.   Populasi Study

Guru SMPN 1 Ciawi

2.   Sampel : Responden (guru SMPN 1 ciawi)

a   Jumlah : 40 responden

Alasan : Besar populasi yang ada di SMPN 1 Ciawi saat ini adalah sebanyak 80 orang, untuk melihat hasil yang akurat  di perlukan sampel yang bisa mewakili jumlah populasi. Pengambilan 50% responden dari jumlah populasi di karenakan faktor kehadiran guru yang belum tentu 100% hadir saat penelitian. Sehingga jumlah 40 responden di harapkan bisa mewakili populasi yang ada. (Metode riset keperawatan, 85)

b   Kriteria :

-    Inklusi :

1. Guru SMP Negeri 1 ciawi

2.  Guru yang sedang berada di SMPN 1 Ciawi

3.  Guru yang bersedia menjadi responden

-     Eklusi:

1. Guru di luar smp negeri 1 ciawi

2.   Guru yang tidak hadir di tempat

3. Guru yang menolak untuk diwawancara

3.   Cara

Purposive sampling, pengambilan sampel secara purposive didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang di buat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Pelaksanaan pengambilan sampel secara purposive ini antara lain sebagai berikut:

Mula-mula peneliti mengidentifikasi semua karkteristik populasi,misalnya dengan mengadakan studi pendahuluan atau dengan populasi. Kemudian peneliti menetapkan berdasarkan pertimbangannya, sebagian dari anggota populasi menjadi sampel penelitian. Sehingga teknik pengambilan sampel secara purposive ini didasarkan pada pertimbangan pribadi peneliti sendiri.

A. Pengolahan dan Analisa data1. Pengumpulan data

Data di kumpulkan melalui wawancara.

2. Pengolahan data

a)      Data Coding atau menkode data, dimaksudkan untuk menguantifikasi data kualitatif atau membedakan aneka karakter. Pemberian kode ini sangat di perlukan terutama dalam rangka pengelolaan data, baik secara manual, menggunakan kalkulator, maupun dengan menggunakan komputer.

b)      Data editing atau mengedit data, di maksudkan untuk mengevaluasi kelengkapan, konsistensi dan kesesuaian antara kriteria data yang di perlukan untuk menguji hipotesis atau “menjawab” tujuan penelitian.

c)      Data file, peneliti mengembangkan sesuai rencana hipotesis dan memberi nama variable sehingga dapat di baca oleh komputer.

d)      Data cleaning, yaitu peneliti melihat distribusi frekuensi untuk mengetahui apakah sesuai distribusi frekuensi itu logis atau tidak, apabila ada outhers maka peneliti dapat melihat ulang kuesioner dan merevisinya. ((Sudarwan Danim, 2003 : 245)

3. Analisa data

Data di analisa dengan menggunakan analisa univariat. Analisa univariat yaitu menganalisa satu persatu variabel untuk mengetahui gambaran pengetahuan guru tentang kejiwaan remaja di SMPN 1 Ciawi Tahun 2010.

About these ads

3 Responses to "GAMBARAN PENGETAHUAN GURU TENTANG MASALAH KESEHATAN JIWA PADA REMAJA DI SMPN 1 CIAWI TAHUN 2010"

mba proposalnya kok gak sampe habis? pdhl artikelnya bagus bgt ni, saya jg lg nyari tambhan referensi, atau memang sampai analisa data ya?? mohon d koreksi,, tkb

mba,,boleh tau buku referensi dari makalah tersebut…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: